Rabu, 08 Desember 2010

ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN

What is the focus actually about this major study ???
Banyak yang tidak tahu mengenai ilmu jurusan ini. Karena berdasarkan pada pengalaman teman – teman yang sudah terlebih dahulu memasuki tahap interview di dunia kerja ternyata banyak orang – orang perusahaan yang bertanya – tanya tentang jurusan ini. Saya sendiri sebagai salah satu alumni jurusan ini juga bingung kenapa jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan masih di buka di UNDIP karena pada faktanya lulusan dari jurusan ini tidak banyak dibutuhkan dalam dunia kerja khususnya perusahaan. Kebanyakan perusahaan membutuhkan sarjana management dan akuntansi saja sementara untuk lulusan ilmu ekonomi studi pembangunan ini hanya bisa masuk pada lowongan – lowongan untuk segala jurusan. Pernah sering mencoba teman – teman memasuki lowongan untuk manajemen dan akuntansi tapi ternyata tidak dipanggil.

Susahnya mencari pekejaan dari lulusan ini mungkin didasari dari ilmu yang dipelajari dalam studi pembangunan yang kurang fokus. Apakah mengacu pada ilmu praktis atau pada ilmu theory. Ilmu praktis misalnya riset – riset tentang berbagai kebijakan ekonomi pembangunan yang cenderung dipelajari hanya dari luarnya saja…hampir tidak berbeda dengan pelajaran anak SMA dan tidak menarik atau mengasah kemampuan mahasiswa untuk lebih mendalami arti dari studi pembangunan itu sendiri. Pelajaran tentang ilmu ekonomi internasional juga kurang mengena karena mahasiswa hanya di pancing untuk beropini yang sebenernya semua orang bisa saja melakukannya. Mahasiswa seharusnya diberikan orientasi praktis misalnya bagaimana aplikasi ekonomi internasional terhadap kebiatan ekonomi di Indonesia khususnya untuk ekonomi regional. Namun dalam studi pembangunan internasional is international nothing related to our region. Jadi ilmu dalam studi ini hanya berlaku sebagai OBYEK… dan tidak bisa di jadikan SUBYEK. Dimana teori – teori yang ada seharusnya bisa dipraktekkan secara praktis seperti ilmu – ilmu eksakta lain. Berbeda dengan magemen dan akuntansi yang sangat berkaitan dengan realita.Kalau memang studi pembangunan cuma mempelajari hal – hal yang perspektifnya melahirkan ahasiswa yang suka beropini seharusnya tidak tepat apabila di berikan pada generasi sarjana ekonomi pada strata 1 yang orientasinya setelah kuliah adalah bekerja. Ilmu ekonomi Studi Pembangunan lebih cocok di aplikasikan kepada mahasiswa – mahasiswa yang sudah memiliki kemampuan berpikir produktif dan punya akses untuk berpikir praktis misalnya pada tingkat Pasca Sarjana atau Program Magister. Untuk program S1 sebaiknya di hapus saja karena lulusannya tidak dibutuhkan dalam dunia perusahaan. Mungkin hanya instansi – instansi pemerintah saja itupun lowongan hanya 1 kursi atau 2 kursi. Lalu bagaimana dengan mahasiswa studi pembangunan yang lain yang jumlahnya ada ratusan alumni tiap tahunnya? Apakah hanya untuk menambah jumlah pengangguran saja? Sebaiknya jurusan ini diganti nama dan sistem pendidikannya agar lulusannya lebih dibutuhkan dalam sektor swasta terutama perusahaan. Karena bagaimana mutu SDM bisa ditingkatkan apabila ilmu yang dipelajari tidak bisa di aplikasikan ke dalam sektor riil..??dalam ekonomi internasional misalnya percuma menghitung2 dan mengadakan penelitian tentang kurs kalo dalam masyarakat perusahaan mahasiswa lulusan ekonomi studi pembangunan sendiri tidak punya kemampuan praktis apa2 seperti lulusan manajemen ataupun akuntansi. Perusahaan tidak membutuhkan penganalisis kurs sebagai pekerja pemula dalam perusahaannya. Karena banyak konsultan dan personil lain yang lebih bisa. Akhirnya mahasiswa ekonomi pembangunan fresh graduated tidak dibutuhkan. dan akhirnya para mahasiswa yang putus asa kembali lagi ke titik awal yaitu wiraswasta atau enterpreneur. MULAI DARI NOL LAGI. Kapan majunya negeri ini?kalo mikirnya bolak balik?dan orang2nya tidak bisa mengaplikasikan ilmunya secara maksimal?

Studi Pembangunan seharusnya diganti dengan Ilmu Ekonomi Pembangunan dan Pengembangan Industri. Lebih difokuskan pada studi pemasaran suatu industri. Bukan cuma teori2 dan analisis2 yang bersifat terlalu makro. Ekonomi industri itu sendiri kurang memfokuskan pada ilmu pemasaran yang yang sebenarnya sangat penting bagi ilmu ekonomi mengingat banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga2 pemasaran yang seharusnya lebih berpotensi daripada tenaga dalam organisasi perusahaan.

Manajamen pemasaran justru dipelajari dalam ekonomi manajemen. Dimana lulusan manajemen justru banyak bekerja di dalam perusahaan. Segala teknik pemasaran ada di dalam manajemen pemasaran yang seharusnya bisa lebih dikembangkan dalam ilmu ekonomi studi pembangunan yang jangkauannya lebih luas meliputi internasional sampai regional. Juga mencakup Ekonomi Industri. Ilmu – ilmu ekonomi studi pembangunan sangat mendukung pemasaran tapi semuanya di dalam jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan cuma di hitung2, dianalisis meliputi lingkup MAKRO sementara secara mikro gregetnya kurang terasa. EKONOMI INDUSTRI misalnya percuma kalo kita mempelajari industri di luar negeri dengan buku bahasa inggris pula tapi kalo secara sederhana kita tidak bisa secara teknis tahu tentang bagaimana teori – teori itu teraplikasikan secara RIIL ke dalam perusahaan perusahaan atau dengan kata lain mahasiswa hanya tahu dari contoh2 yang disajikan dosen tanpa ada prakteknya langsung atau presentasi dari suatu perusahaan misalnya untuk lebih membuka dan memberikan inspirasi kepada mahasiswa. Sehingga tidak melulu hanya teori tapi juga ada warna sendiri yang akan mereka ciptakan apabila mereka lulus nanti.

Dengan begitu perusahaanpun tidak akan memandang remeh jurusan ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar...nya Dong ^_^